Rabu, 12 Mei 2010

Sisa-sisa hujan belum juga reda. Aku mengulurkan tangan melewati cucuran atap. Membiarkan rintik-rintik hujan berebut singgah di telapak tangan. Hiruk pikuk asap dari secangkir capucino tersaji di atas meja lesehan. Aku memalingkan pandangan. Lalu menatap Jumi.

“Aku mengatakannya karena aku tidak mampu lagi untuk menahannya. Semakin sakit jika harus terus dipendam. Terlalu cepat, Fik?” suara Jumi bergetar. Persis seperti getar-getar cinta yang saat ini memenuhi seluruh nadinya. Jumi menatapku, mengharapkan jawaban. Jawaban dari akhir ceritanya di lesehan ini. Seteguk capucino menghangatkan tenggorokanku. Aku menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutku. Berharap Jumi puas dengan jawabanku. Ia sedikit terhibur.

Lama-lama lesehan ini ramai dikunjungi orang. Dua jam sudah kami di sini. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku lihat di layarnya. Tertera nama Gugun. Tanganku sedikit gemetar. Sebentar aku melihat Jumi. Gejolak rasa bersalah menguliti tubuhku. Lebih-lebih ketika Jumi mengutarakan seluruh perasaannya tentang Gugun kepadaku. Gugun masih terus memanggil. Sedikit gugup, aku sedikit menjauh dari Jumi. Berusaha agar ia tidak mendengar semua perbincanganku dengan Gugun. “Jum! Tunggu sebentar, yach! Dari kakak!” kataku pada Jumi sambil meninggalkannya. Tentunya ia percaya dengan kebohonganku.
“Halo Gun!” sedikit ketakutan, aku mengecilkan suara.
“Fika! Tugas Metode Penelitian sudah siap? Aku kurang paham. Tolong ajarkan, Fik!”
“A..a…ku?” tanyaku gugup
‘Ia! Please!” jawabnya dengan penuh harap
“T…ta…ta…pi, aku rasa Gugun lebih paham dari aku!”
“Please, Fik! Aku nggak paham Metode Penelitian!”
“Ok, di pustaka wilayah, besok, jam 1!” sambungku tanpa ada keraguan.
“Ok, my friend!”
****
Jumi masih menikmati pandangannya yang hampa akan tujuan. Sedari tadi ia hanya membelai-belai gelas capucino itu. Belum seteguk pun diminumnya.
“Jum, ikut nggak belajar sama…”
Sebuah petir besar menyambar. Mengejutkan semua pengunjung lesehan. Termasuk aku dan Jumi. Kami menyaksikan beberapa pengunjung lesehan yang gaduh.
“Belajar? Belajar sama siapa?” Jumi melanjutkan kata-kataku yang belum selesai.
“Belajar…belajar…yach belajar!” jawabku gugup
“Tadi katanya belajar sama…”
“Maksud aku, kita belajar sama-sama!” Aku menjadi seorang pembohong ulung di keadaan ini. Berharap Jumi percaya dengan kata-kataku yang sedikit gugup. “Apalagi minggu depan kita semester, nggak apa-apalah sesekali kita belajar bareng!” sambungku.
Jumi menganggukkan kepalanya. Sedikit keberuntungan berpihak padaku. Jumi percaya. Untungnya, ia tidak meminta waktu belajarnya esok.
****
Esok hari. Dia sudah menungguku. Dari balik kaca bening, jelas aku melihatnya mengutak-atik sebuah laptop. Rasa bersalah itu mulai bergejolak kembali. Apakah aku sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang? Aku yang menepuk air. Sayangnya, yang basah bukan mukaku, tapi muka Jumi. Apa yang harus aku dahulukan? Perasaan aku sendiri atau perasaan sang teman. Langkah ini begitu berat. Semakin berat ketika aku semakin berada dekat dengannya.
“Hmm” Gugun melihat ke arahku. “Sibuk nich!” aku menyapanya dengan sedikit gurauan. Berusaha mengurangi rasa tegang ketika melihatnya.

Senyumnya melebar. Jujur aku katakan, enam bulan aku mengenalnya, belum pernah ia tersenyum seperti ini. Senyum yang merekah, polos, dan senyum sebuah kejujuran dengan mata yang bercahaya menatapku. Apakah ini senyum untukku, Gun?. Untukku? Jangan mimpi, Fika! Aku tidak seharusnya melihat senyum indahnya di pagi ini.

“Tukang jaga pintu, yach?”
Sentak aku terkejut mendengarnya. Berarti dari tadi ia sudah melihat aku yang mematung di pintu masuk pustaka wilayah. Wajahku memerah. Dadaku berdebar. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku. Harapanku dia tidak ingin tahu apa yang aku rasakan saat ini.

Ada perasaan berbeda ketika aku berada dekat dengannya. Aku tahu, mata kecilmu selalu memandangku, Gun. Aku merasakannya ketika kita sedang belajar, ketika kita sedang berdiskusi, atau ketika kita berdua bercanda. Mungkin dirimu tak tahu tentang itu. Gugun ingat! sebuah kalimat—karena aku menyukaimu, Fik!—keluar dari mulutmu, Gun. Kini sedang menjadi hantu dalam setiap waktu dan nafasku. Walau ketika itu kita hanya bercanda. Aku senang mendengarnya. Senang sekali!
“Hei…!” Gugun mengejutkanku. “Melamun! Mikir apa?”
“kg…kg…nggak. Nggak mikir apa-apa. Benar, aku nggak mikir apa-apa!” aku meyakinkan Gugun. Berusaha mengembalikan konsentrasi pada pelajaran yang akan kami bahas. Keringatku masih bercucuran. Bahkan keluar lebih banyak. Penyejuk ruangan tak mampu menahan keringatku. Sekuat tenaga aku berusaha fokus. Fokus Fika! Fokus! Jeritku dalam hati.

Dan untuk pertama kalinya pandangan kami berpapasan. Bertemu pada satu titik yang sangat aku harapkan.
“Gun! Lagi ada masalah yach?”
“Nggak! Kelihatannya aku ada masalah?”
Aku menganggukkan kepala. “Jangan bohong!” jawabku

Aku tahu ini salah. Pesan yang dipercayakan Jumi, telah aku salah gunakan untuk kepentingan diriku sendiri. Menggali perasaan seseorang yang kuharapkan kehadirannya dengan menggunakan wayang. Sang wayang bukanlah siapa-siapa, melainkan temanku sendiri. Lalu, aku sebagai dalang akan menutup tirai setelah pentas berakhir. Tapi, aku ingin yang terbaik.
Gugun mengembalikan pandangan pada sebuah buku yang berada di tangannya.
“Fik!” Aku mendengar ia memanggilku. Mencoba berfikir positif, dia akan bertanya tentang pelajaran. Tidak lebih dari itu.

Gugun melanjutkan perkataannya yang jauh dari apa yang aku harapkan, Aku terpaksa menegakkan wajah untuk melihatnya. “Sebagai laki-laki, ketika ada seorang wanita yang mengungkapkan perasaannya pada ku, bukan main rasa senang yang aku rasakan. Nggak terlalu muluk, Fik. Tapi sayang, pe-rasaanku tidak bisa berkata ya, untuk itu.”
“Untuk itu apa?” aku pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Gugun. Jauh di dalam hatiku bertabur rasa senang karena aku telah mendapatkan jawaban Gugun yang paling dinantikan Jumi. Tapi, aku tidak boleh mengorbankan perasaan siapapun. Walau pada ujungnya, perasaanku sendiri yang akan sakit.

“Sudah sejauh mana Fika tau tentang cerita ini?” aku melihat ke arah Gugun. Rupanya dia tahu apa yang ada di pikiranku saat ini. Kali ini cara berbohong apa lagi yang harus aku lakukan.
“a…a…ku…” penyakit gugupku sering muncul jika situasinya seperti ini.

“Satu hal yang ingin ku katakanJumi wanita yang hebat” sambungnya tanpa menunggu jawabanku. Gugun membalikkan halaman bukunya. Aku tatap wajahnya. Berpikir kalau ia akan menerima Jumi. Jumi memang wanita yang hebat, tidak seperti diriku yang terlena oleh kekuranganku sendiri.

Lalu, Gugun kembali menatapku dalam. Tatapan yang ingin menemukan sesuatu dalam diriku. Menarik semua perhatianku dengan kata-kata yang membelaiku hingga lelap dalam mimpi indah.
“Aku berada di sisi Jumi, tapi aku ingin fika yang berada di sisiku.”

****

Pukul Sembilan malam. Aku membuka laptop.
Malam ini, 14 Januari 2010. Aku sering dihadapkan pada dua pilihan. Tapi, ini lebih sulit dari apa yang pernah aku pilih sebelumnya. Maafkan aku bila telah menjadi orang di belakang layar selama ini. Bagaimana ingin taunya dirimu tentang Gugun, lebih kuat rasa ingin tahuku, Jum. Ketika kau merindukannya Jum, aku lebih merindukannya. Ketika kau bercerita padaku tentang rasa cintamu dengan dirinya, aku merasa sakit, Jum. Kusembunyikan rasa ini karena aku tahu, Jumi lebih dulu mengeja sunyi. Percayalah! Jumi tak akan terluka.

0 komentar:

Posting Komentar